Menpora Erick Thohir Apresiasi Dua Event Tinju Pertina dan KTI Kota Malang yang Digelar dalam Satu Hari

indonewsdaily.com, Malang- Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengapresiasi dua event Tinju oleh Pertina dan KTI Kota Malang yang digelar dalam satu hari, Minggu (23/8/2026).

Erick Thohir disambut Ketua Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Kota Malang,  Muhammad Anas Muttaqien,
tokoh Tinju Malang Raya Sam Ade “d’Kross” Herawanto dan sejumlah tokoh lainnya di lapangan luar Stadion Gajayana.

Acara tersebut bertajuk “Tinju Exhibition & Sparing Day” dengan tema Malang The Glory Land pada Minggu (23/8/2026) sore, serta ada event tinju juga di wilayah Perumahan SPI Sukun Kota Malang.

Acara yang berlangsung di Stadion Luar Gajayana, Kota Malang, ini dimulai pukul 16.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini bertujuan untuk mengasah kemampuan para atlet lokal sekaligus menjaring potensi baru di dunia adu tinju.

Poin Utama dalam Acara ini yakni dengan Format: Eksibisi dan latihan tanding bersama, Peserta: Terbuka untuk atlet amatir maupun masyarakat umum yang ingin menguji kemampuan, Fasilitas Penonton: Gratis masuk tanpa dipungut biaya tiket.
Ajang ini diharapkan mampu membangkitkan kembali gairah olahraga tinju di Kota Malang serta melahirkan petinju berbakat yang siap berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.

“Ayo para petinju kumpul disini,” ajak Erick setelah melihat laga yang melibatkan dua petinju perempuan.

Erick antusias berbincang dengan Anas dan Sam Ade d’Kross terkait perkembangan dunia tinju di Kota Malang khususnya.

Sementara itu Anas Ketua Pertina yang baru berjanji akan membawa cabor tinju Kota Malang lebih berprestasi, baik di tingkat Jatim nasional maupun internasional. 

Selain itu dia juga akan melakukan penguatan organisasi, terutama mendata kembali sasana yang ada.

“Ya.Jadi hari ini kami Pertina bersama senior-senior insan tinju Kota Malang turut meramaikan gelaran event Festival Mbois.kita mengadakan eksebisi tinju amatir, sasana-sasana di Malang kita undang, kita ajak sparing, ya harapannya ini menjadi momentum awal untuk menumbuhkan kembali spirit, semangat, atmosfer tinju di Kota Malang yang sudah pernah menjadi barometer nasional,” urai Anas sapaan akrab Ketua Pertina Kota Malang.

Ia menambahkan, teman-teman komunitas amatir/profesional Malang Raya sebenarnya diajak juga,kita undang untuk eksebisi.Ada 26 atlet,ya lumayan,karena yang separuh masih bertanding resmi di Kejurprov.

“Nah, ini silaturahmi awal. Silaturahminya orang tinju kan ya tinju itu,” gurai Anas.

​Ya ini kan warming up ya, warming up kita pemanasan, kita gairahkan lagi. Nanti harapannya di Porprov 2027 kita bisa siap dan ya meraih medali di sana mewakili Kota Malang.

​Ya memang kita ingin menghidupkan kembali atmosfer tinju di Malang yang pernah menjadi barometer.Apalagi bibit-bibit muda, anak-anak muda di Kota Malang ini kan sekarang trennya hidup sehat ya.

Kita ingin mengarahkan kegiatan-kegiatan positif, salah satunya ya tinju ini. Kita ingin mentabulasi juga potensi-potensi yang ada di Kota Malang.

​”Nanti persiapan insya Allah sekitar bulan Oktober kita akan mengadakan event Wali Kota Cup. Sekaligus pengukuhan teman-teman pengurus yang baru. Sam Ade d’Kross menambahkan bahwa pihaknya yakin dengan kepemimpinan amatir di Sam Anas, nah, untuk yang prof, pihaknya ngajak teman-teman lama,” tambahnya

​”Karena momentumnya dengan Pertina ada darah baru,kami termasuk turun lagi ke KTI prof sambil menyiapkan regenerasi. Nah, tadi sudah kita diskusikan, wasit kita tambahi untuk bisa untuk amatir, bisa untuk prof. Terutama untuk menampung adik-adik yang sekarang sedang tren di tinju apa ya, tinju bebas atau saku-saku, apa istilahnya combat sport, street boxing, open fight. Nah, itu harus ada yang wadahi ya. Sementara wadah resmi yang saat ini diakui pemerintah adalah Pertina dan juga prof KTI. Nanti kami kolaborasi dengan Sam Anas untuk menampung adik-adik supaya minimal ada regulasi yang melindungi, wasit yang sudah punya sertifikat, hakim juga,” terangnya.

​Ada juga yang dari pelajar, SMA 1 sama SMK 6 ya. Itu yang dijadikan salah satu lumbung atlet dari Pertina, karena usia ya. Usia petinju amatir itu maksimal 23  tahun sekarang di Porprov.

“Berarti kalau sejak 23  tahun mereka mau ndak mau, suka ndak suka, kalau masih cinta dunia tinju masuk ke tempat kami di KTI. Tinggal nambahi beberapa teori,” imbuhnya.

Kiprah Sam Ade d’Kross Setelah Muskot Pertina berakhir,sasana-sasana juga menunjuk Ade Herawanto untuk menjadi Ketua Komisi Tinju Indonesia (KTI) Kota Malang yang telah lama mati.

Kiprah Sam Ade bukan kemarin sore di dunia tinju Malang Raya. Beberapa tahun silam, dua petinju andalan d’Kross Boxing Camp (BC), Hero Tito dan Rivo Rengkung, berkontribusi mengharumkan nama bangsa. 

Seiring keberhasilan mereka mengamankan gelar juara dunia versi World Professional Boxing Federation (WPBF) di Timor Leste.

Bicara soal sukses tersebut, tentu saja takbisa lepas dari kiprah owner d’Kross BC, Ir H Ade Herawanto MT., yang berkecimpung di dunia tinju sejak tahun 2002 silam.

Sosok Ade inilah yang mencetuskan lahirnya kejuaraan Malang Super Fight (MSF) yang penyelenggarannya sudah mencapai 22 edisi.

Nyatanya, d’Kross BC yang dikelola Ade bersama para insan tinju Malang Raya, tak hentimelahirkan petinju petinju hebat dan pantang menyerah sejak berdiri tahun 2008 silam. Sedari awal, sang owner memang punya ambisi besar.

“Tujuan awalnya, saya hanya ingin mengembalikan kejayaan tinju Malang seperti era 70′-80’an. Semua ini berangkat dari rasa keprihatinan akan terpuruknya olahraga tinju di Malang,” ungkap Sam Ade d’Kross.

Pria asli Malang ini lantas menceritakan awal mula kecintaanya dengan olahraga kerasini. Memorinya langsung tertuju pada gelaran tinju di Lapangan Rampal medio Agustus 2002.

“Semua orang saat itu larut dalam euforia sepakbola.Sampai tinju pada acara Expo Rampal tidak ada yangmenonton.Miris sekali melihatnya,” kenangnya lirih.

Setahun berselang, Ade kemudian bergabung dalam manajemen Gajayana Boxing Camp (BC). Sebagai langkah awal, dia mulai merintis karier sebagai Co Promotor. Dari situlah, obsesi besarnya mulai timbul.

”Saya ingin melihat ada seorang juara tinjudunia asal Malang. Saya berusaha keras bisajadi promotor untuk mewujudkannya,” serunya 

Barulah pada tahun 2008, Ade memiliki sasana sendiri bernama d’Kross BC, mengutipnamagrup band yang dia dirikan dua tahun sebelumnya. 

Tak lama sejak didirikan, d’Kross menjadi sasana ikonik baru Kota Malang, pasca melahirkan petinju hebat macam Kirno Armase, Sis Morales, Victor Mausul, Mosin Khadafi hingga Hero Tito dan Rivo Rengkung yang kini berstatus juara dunia.

Tak sekadar memiliki sasana tinju, tokoh Aremania ini juga aktif menjadi seorang promotor yang diperhitungkan di kancah nasional.

Lisensi yang dikantongi peraih gelar Masterdari Fakultas Teknik Universitas Gajahmada (UGM) itu pun tak main-main.

Setelah memiliki lisensi promotor nasional versi Komisi Tinju Indonesia (KTI), menyusul kemudian lisensi nasional dari Asosiasi Tinju Indonesia (ATI), Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI) dan lisensi dari Federasi Tinju Indonesia (FTI) juga berada dalam genggamannya.

Sejalan dengan kelengkapan lisensi yang dimilikinya, Ade juga dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua KTPI Malang Raya dan KetuaFTI Jawa Timur.

Berkat kegigihannya membangkitkan dunia tinju Tanah Air, Ade sempat menerima penghargaan bergengsi dari ATI yang diberikan sebagai pengakuan dan penghormatan kepada insan tinju profesionalatas peranan, dedikasi dan dukungannya dalam membina olahraga tinju di Indonesia.

Karena prestasinya tersebut, nama pria yangpernah menjabat Kepala Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kota Malang itu layak disejajarkan dengan sejumlah tokoh tinju ternama yang juga meraih penghargaan serupa

Sebut saja Pembina ATI Pusat, Jenderal TNI (Purn) H. AM Hendropriyono hingga mereka yang pernah menduduki kursi Ketua ATI Pusatmacam Elza Syarief, Rufinus H Hutauruk, Junimart Girsang hingga Laksda TNI (Purn) HYuswaji yang telah lama malang melintang didunia tinju profesional.

Namun jangan kira, jalan untuk melahirkan juara dunia seperti dicita- citakan Ade mulus tanpa hambatan. Segala pencapaiannya di dunia kepromotoran penuh lika liku dan pengorbanan.

Alumni SMAN 3 Malang itu tak jarang harus merogoh kocek pribadi untuk membiayai kebutuhan sasana hingga menggelar pertandingan.

“Kalau dihitung sudah bisa buat beli rumah ya,” timpal Ade.

Kini hampir 15 tahun berlalu sejak kali pertama Ade berkecimpungdi dunia tinju,dia merasa sudah saatnyadia mundur dari cabor yang dia cintai itu. 

“Dulu saya sempat berjanji, jika berhasil mengantarkan petinju Malang menjadi juara dunia, maka saya akan mundur. Sekarang mimpiitu telah terwujud, dengan lahirnya juara dunia tinju baru dari Bhumi Arema, janji yang terucap harus tetap ditepati. Tapi memang kasihan juga jika gelar juara dunia tersebut sampai lepas,” paparnya

“Bukan berarti saya kemudian tutup mata dengan dunia tinju, tapi saya mengharapkan ada regenerasi,bagaimanapun, harus ada generasi yang meneruskan perjuangan saya bersama rekan-rekam,” ucapnya

“Untuk membangkitkan tinju Malang dan mengembalikan kejayaan Bhumi Arema sebagai barometer tinju nasional,” imbuhnya (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *