indonewsdaily.com, Malang –Pemerintah Kota Malang menyambut baik dan mematangkan persiapan penyelenggaraan JAWARA International Classic Bike Rally 2026. (14/5/2026)
Suasana malam di Balai Kota Malang berubah meriah pada Kamis, 14 Mei 2026. Deru mesin motor klasik dari berbagai era menggema, menandai dimulainya Jawara International Classic Bike Rally 2026.
Sebanyak 500 peserta dari seluruh Indonesia dan mancanegara memulai petualangan sejauh 458 kilometer menyusuri Jalur Lintas Selatan Jawa menuju Solo, Jawa Tengah.
Event berskala internasional ini digagas oleh Motor Antique Club Indonesia (MACI) melalui program Jelajah Warisan Nusantara, atau disingkat JAWARA.
Tujuannya bukan sekadar adu kecepatan, melainkan memperkenalkan kekayaan budaya, sejarah, dan panorama pesisir selatan Jawa yang jarang terjamah wisatawan biasa.
Start Megah dari Kota Malang, Finis di Solo, Rombongan memulai etape pertama tepat pukul 20.00 WIB dari titik kumpul Balai Kota Malang. Jalur yang dipilih panitia adalah Jalur Lintas Selatan atau JLS, jalur legendaris yang membentang dari Trenggalek, Tulungagung, Pacitan, hingga masuk ke wilayah Jawa Tengah.
“Rutenya kita pilih khusus. JLS itu menantang, berkelok, naik turun, tapi pemandangannya luar biasa. Peserta bisa merasakan sensasi berkendara sekaligus menikmati alam selatan Jawa,” jelas Fanny Nurisma, Ketua Pelaksana JAWARA Rally MACI 2026.
Perjalanan dirancang selesai dalam 2 hari 1 malam. Peserta akan singgah di beberapa titik istirahat dan check point yang sudah disiapkan panitia di sepanjang jalur. Finis dijadwalkan di Kota Solo pada Sabtu malam, 16 Mei 2026.
Peserta dari Malaysia Hingga Australia Ikut Meramaikan, Antusiasme peserta jauh melampaui target awal. Dari 500 pendaftar, sebagian besar berasal dari klub-klub motor antik di bawah naungan MACI. Namun yang menarik, ada pula peserta dari Malaysia dan Australia yang sengaja menerbangkan motornya ke Indonesia untuk ikut serta.
“Ada 500 peserta yang mendaftar, dari klub MACI, dan ada peserta dari Malaysia dan Australia,” ujar Fanny. Kehadiran bikers asing ini membuat event tahun ini resmi menyandang status internasional.
MACI sengaja membuka kuota untuk peserta luar negeri sebagai bagian dari diplomasi budaya. Selain touring, peserta asing diajak mencicipi kuliner lokal, mengunjungi situs bersejarah, dan berinteraksi langsung dengan komunitas di tiap daerah yang dilewati.
Motor Tertua 1927, Syarat Teknis Ketat Diberlakukan, yang membuat rally ini unik adalah armada yang digunakan. Panitia hanya memperbolehkan motor produksi tahun 1976 ke bawah untuk ikut serta. Hasilnya, terlihat puluhan motor legendaris seperti Norton, BSA, Triumph, Harley Davidson flathead, hingga Vespa dan Lambretta lawas berbaris rapi sebelum start.
Motor tertua yang terdaftar adalah unit rakitan Inggris keluaran 1927. Usianya hampir 100 tahun, tapi mesinnya masih menyala dan siap diajak menempuh ratusan kilometer.
Sebelum diberangkatkan, setiap motor wajib lolos scrutineering. Tim mekanik memeriksa kondisi rem, mesin, kelistrikan, ban, dan kelengkapan surat. Kesehatan pengendara juga dicek. Aturan ini diterapkan untuk meminimalisir risiko di jalur yang dikenal ekstrem.
“Keamanan nomor satu. Jalur selatan itu gelap, sepi, dan banyak tikungan tajam. Motor harus sehat, rider juga harus fit,” tegas Fanny.
Kisah Aa Ujang dan Norton 1956: Dari Bandung ke Sabang-Flores, salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Aa Ujang dari Bandung. Ia datang dengan Norton 500cc tahun 1956 yang sudah menemani perjalanannya keliling Nusantara.
“Alhamdulillah motor saya sehat-sehat saja. Kenapa pakai motor klasik? Karena hobi motoran dan motor klasik itu suaranya enak didengar dan bergelegar. Besok rencananya ke Solo lewat Tulungagung,” kata Ujang sambil mengelus tangki motornya.
Bagi Ujang, motor klasik bukan sekadar hobi, tapi bagian dari gaya hidup. Motor Norton miliknya sudah pernah diajak ke titik nol Sabang, Aceh di ujung barat Indonesia, hingga Flores di Nusa Tenggara Timur.
“Kalau pun ke barat pernah sampai titik nol Sabang, Aceh. Kalau ke timur sampai Flores. Pakai motor ini,” tuturnya bangga. Ketangguhan motor berusia hampir 70 tahun itu membuktikan bahwa perawatan yang tepat bisa membuat mesin tua tetap tangguh di segala medan.
JAWARA: Lebih dari Sekadar Rally, Menurut Fanny, nama JAWARA sengaja dipilih sebagai akronim dari Jelajah Warisan Nusantara. Konsepnya adalah menggabungkan touring, heritage, dan pariwisata. Di setiap titik singgah, peserta akan diperkenalkan dengan kuliner khas, tarian daerah, dan produk UMKM lokal.
“Ini bukan balapan. Ini tentang menikmati perjalanan, merawat warisan, dan menghidupkan ekonomi lokal di sepanjang jalur selatan. Banyak potensi wisata di sana yang belum terekspos,” katanya.
Panitia juga menggandeng pemerintah daerah Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Pacitan, dan Solo untuk menyambut kedatangan rombongan. Beberapa titik akan dijadikan ajang pameran motor klasik terbuka untuk masyarakat.
Jadikan Event Tahunan Bertaraf Dunia, kesuksesan pendaftaran 500 peserta di tahun perdana membuat MACI optimis menjadikan JAWARA International Classic Bike Rally sebagai agenda tahunan. Targetnya, event ini bisa masuk kalender wisata nasional dan menarik lebih banyak peserta dari Eropa dan Asia.
“Antusiasme peserta melampaui ekspektasi awal klub lokal. Ini jadi bukti bahwa komunitas motor klasik di Indonesia hidup dan punya daya tarik besar,” tutup Fanny.
Dengan deru mesin tua yang bergema di malam Malang, Jawara International Classic Bike Rally 2026 resmi dimulai. 458 kilometer jalur selatan menanti untuk ditaklukkan, membawa cerita, persahabatan, dan warisan yang akan dikenang.
(Gih).








