Indonewsdaily.com, Kota Malang – Bangunan Villa Bella Vista pernah menjadi tempat persinggahan sementara Presiden RI pertama yaitu Ir Soekarno.
Diterangkan Agung Buana yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, sejarah peresmian Alun-Alun Tugu oleh Bung Karno pada tahun 1953 silam, ternyata ada keterkaitan dengan rumah tua Bella-Vista.
Sebab, dalam sejarahnya ribuan orang menghendaki Bung Karno untuk melakukan pidato secara langsung di depan masyarakat Kota Malang di Alun-Alun Tugu Malang.
“Dibuatkanlah podium dadakan oleh kepanduan keturunan arab untuk Bung Karmo agar bisa berpidato di tengah-tengah lapangan,” kata Agung, Minggu (13/3) siang .
Setelah itu, ada dugaan setelah meresmikan Alun-Alun Tugu Malang, Bung Karno menyinggahi ke Vila Bella-Vista sebelum dirinya kembali ke Surabaya menggunakan kereta api.
“Jadi cuma singgah, Tapi itu gak lama, hanya sejenak saja. Karena setelah itu Bung Karno harus kembali ke Surabaya,” imbuhnya.
Vila Bella-Vista yang berdiri sekitar tahun 1920an, diketahui hingga tahun 1942 masih ditinggali oleh keluarga Belanda kala itu.
Namun, dalam sejarah peradaban, di era tahun 1942-1945 sempat dipakai oleh Jepang saat masuk ke wilayah Indonesia sebagai kantor pendukung.
“Kemudian sejak Jepang keluar Indonesia tahun 1945an, Bella-Vista terbengkalai, karena waktu itu adalah masa yang tidak jelas, tahun 1945-1949,” ungkapnya.
Kemudian, setelah terbengkalai sementara, Vila Bella-Vista sempat diambil alih oleh orang pribumi dan ditinggali sementara saja.
“Lalu tahun 1970an, informasinya dibeli oleh orang kaya jaman dulu dan akhirnya dijadikan salah satu asetnya,” tuturnya.
Akan tetapi, karena orang kaya yang tak bisa disebutkan identitasnya tersebut bertempat tinggal di Jakarta, akhirnya Vila Bella-Vista menjadi tak terawat.
Namun, sekitar tahun 1990an, ternyata Vila Bella-Vista sempat jadi tempat kursus tentang komputer hingga tahun 1998. Hal itu terlihat nyata, karena hingga saat ini di tembok masuk atau ruang tamu, masih terlihat tulisan ‘Information Center, STT Inst Kom” yang memang mulai memudar.
“Setelah itu sempat dikontrak orang, tapi satu sampai dua tahun saja, kemydian banyak kosongnya sampai sekarang,” imbuhya.
Jika diamati, Vila Bella-Vista memang tak pernah diubah soal bentuk bangunannya. Akan tetapi, menurut Agung, banyak ornamen bangunan tua tersebut diambil oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
“Dilihat itu masih asli, tapi didalam banyak yang sudah hilang,” tegasnya.
Disisi lain, soal Cagar Budaya, lanjut Agung, sebenarnya bangunan rumah tersebut bisa masuk dalam kategori Cagar Budaya.
Dilihat dari kriteria menurut undang-undang, jika dibangun lebih dari 50 tahun, punya arsitektur tertentu dan nilai historis terkait Bouwplan I, seharusnya bisa masuk dalam Cagar Budaya.
“Arsitek Belanda di Indonesia kan memang mengalami perkembangan. Biasanya pakai Indische Empire Style yang bermodel pilar-pilar besar. Mulai pada atapnya meruncing, pritisan, ruang luas, sumur belakang hingga terdapat paviliun di belakang rumahnya. Itu ciri arsitektur Belanda,” tutup Agung Buana pada awak media via telpon, Minggu (13/3) siang.








