Indonewsdaily.com, Mojokerto — Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPR Perakim) Kota Mojokerto kini tengah melakukan perawatan pada fasilitas umum seperti Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Komunal.
Kepala Bidang Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PKP) DPUPR Perakim, Indra Suryadiansyah mengatakan saat ini jumlah IPAL komunal yang dikelola di Kota Mojokerto mencapai 72 titik yang tersebar di berbagai kelurahan.
Puluhan IPAL komunal tersebut menjadi tumpuan sanitasi bagi warga kota. Dalam satu IPAL, jelas Indra setidaknya mampu menampung limbah dari sedikitnya 50 kepala keluarga. Karena fungsinya yang vital, perawatan rutin menjadi sebuah keharusan.
“Pada hari ini, DPUPR Perakim Kota Mojokerto kembali melakukan kegiatan pengurasan dan penyedotan di salah satu titik IPAL. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari dukungan pemerintah agar fungsi IPAL tetap maksimal,” katanya, Rabu (16/9/2026).

Ia menjelaskan, pengurasan IPAL ini merupakan bentuk support dari pemerintah kota. Tujuannya agar sistem pengolahan limbah tetap bekerja optimal dan tidak mengalami penyumbatan. Idealnya, perawatan seperti ini dilakukan secara rutin. Bahkan tanpa harus menunggu adanya laporan atau pengajuan dari masyarakat, dinas secara berkala melakukan pengecekan.
“Kalau bisa itu rutin, berhubung ini juga ada pengajuan juga kan dari masyarakat,” imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, Indra juga menyoroti masa pakai pompa IPAL. Ada yang usianya sudah cukup lama, bahkan mencapai empat tahunan, namun masih berfungsi dengan baik. Kuncinya adalah perawatan yang dilakukan secara disiplin oleh warga.
“Kebetulan ke sini ini tadi umur pompanya alhamdulillah cukup lama, empat tahunan. Saya juga tanya ke warga, Pak Joni tadi saya tanya, Pak ini rutin bersihkan pompanya? Iya Pak saya rutin tiap tiga bulan itu saya angkat saya bersihkan,” ceritanya.
Perawatan tersebut terbukti membuat pompa lebih awet. Sebaliknya, di lokasi yang tidak dirawat, pompa cepat rusak dan IPAL tidak berfungsi maksimal. Ia menemukan berbagai macam kotoran yang seharusnya tidak masuk ke dalam IPAL, seperti celana jeans dan material lain yang menyumbat.
“Di sini itu ada kotoran kayak celana kain, pompa ini kan sensitif. Kalau tidak ada semangat untuk merawat ya akhirnya cepat kotor,” jelasnya.
Indra menegaskan, fungsi IPAL komunal sangat bergantung pada kesadaran bersama. Perawatan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga partisipasi warga yang setiap hari menggunakan fasilitas tersebut. Dengan perawatan yang konsisten setiap tiga bulan sekali, usia pakai IPAL dan pompanya bisa jauh lebih panjang dan mampu melayani kebutuhan sanitasi 50 KK dalam satu kawasan.








