Indonewsdaily.com, MOJOKERTO — Rahardjo Judo Club tidak hanya mengandalkan latihan di atas matras. Klub yang berdiri sejak 2019 ini menerapkan pendekatan sport science dengan tes dan evaluasi rutin untuk mengukur perkembangan atlet.
Pemilik Rahardjo Judo Club, Febriana Meldyawati atau akrab disapa Melda, mengatakan pembinaan di klubnya memang dirancang terukur dan terarah.
“Rahardjo Judo Club ini didirikan menggunakan metode sport science, sehingga pembinaan olahraganya bersifat terukur dan terarah,” kata Melda.
Setiap data hasil pengujian menjadi bahan evaluasi program pembinaan.
“Dengan by data ini, kita bisa memperoleh hasil yang bisa kita lakukan evaluasi. Evaluasi atlet, evaluasi pola kepelatihan,” ujarnya.
Evaluasi tidak berhenti pada kemampuan fisik saat latihan. Pola makan, asupan nutrisi, hingga waktu istirahat atlet juga diperhatikan.
“Apakah konsumsi makanannya, nutrisinya sudah bagus, pola istirahatnya bagus, itu juga akan kita evaluasi,” jelasnya.
Menurut Melda, pembinaan tidak bisa dibebankan hanya kepada pelatih. Rahardjo Judo Club melibatkan pelatih, pengurus, atlet, dan orang tua wali.
“Kita kerja sama antara pelatih, pengurus, atlet, dan juga wali atlet,” katanya.
Sinkronisasi tiga pilar itu penting agar target pembinaan dipahami bersama.
Berawal dari Garasi, Kini Bina 60 Atlet
Rahardjo Judo Club berawal dari latihan sederhana di garasi rumah.
“Kita mulainya dulu di garasi rumah kami,” ungkap Melda.
Pada 2026, jumlah atlet binaan mencapai sekitar 60 orang. Tak hanya judo, klub juga mengembangkan kurash dan sambo. Saat ini ada empat pelatih dengan Muhammad Syaiful Rahardjo sebagai kepala pelatih.
Dari sisi prestasi, sejumlah atlet telah meraih prestasi tingkat nasional. Bahkan pada kejuaraan internasional di Bali bulan lalu, atlet Rahardjo Judo Club berhasil meraih juara pertama, kedua, dan ketiga.
Klub juga membangun jejaring lintas daerah. Saat ini atlet dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan menjalani training camp (TC) di Mojokerto. Sebelumnya sudah ada kerja sama dengan Kalimantan Timur dan DKI Jakarta.
Selain itu, Rahardjo Judo Club menjalin kerja sama dengan Ragunan Jakarta, PPOP Jakarta, dan PJSI DIY.
“Kita lakukan agar anak-anak bisa menerima banyak masukan, banyak ilmu dari sudut pandang masing-masing daerah,” ujarnya.
*Tes Fisik Tiga Kali Setahun*
Kepala Pelatih Rahardjo Judo Club, Muhammad Syaiful Rahardjo menjelaskan tes dilakukan rutin tiga kali setahun.
“Tes ini dilakukan setiap satu tahun tiga kali untuk melihat progres kenaikan para atlet,” kata Syaiful.
Aspek yang diukur meliputi push up, sit up, back up, squat, hingga VO2 Max atau kemampuan oksigen di paru-paru.
Setiap atlet memiliki rapor perkembangan untuk melihat perubahan kemampuan dari waktu ke waktu.
“Kami membina bukan hanya latihan di matras saja, tetapi kami melihat progres mereka mempunyai kenaikan signifikan setiap tahunnya,” katanya.
Hasil evaluasi menjadi bahan persiapan menghadapi kejuaraan seperti POPDA, Kejuaraan Surabaya, Jakarta Open, dan Jogja Open.
Penentuan atlet yang turun disesuaikan dengan kelompok umur (KU) dan kelas berat badan, mulai KU 10, 12, 14, 16, 19, hingga senior.
“Kalau memang harus ada tumpuk kelas atau beberapa pemain yang sama berat badannya, maka kita selalu melaksanakan seleksi terbuka, mengetahui orang tua,” pungkasnya.








