indonewsdaily.com, Malang- Reuni akbar sering kali dipahami sebagai ruang untuk kembali mengenang masa lalu. Bertemu kawan lama, mengingat dosen, ruang kuliah, organisasi mahasiswa, dan berbagai cerita yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Semua itu penting. Namun, sebuah reuni akan menjadi jauh lebih bermakna apabila ia tidak berhenti pada nostalgia.
Reuni seharusnya menjadi momentum untuk bertanya: *apa yang dapat kita lakukan bersama untuk masa depan almamater?*
Universitas Merdeka Malang bukan sekadar tempat kita pernah menempuh pendidikan. Ia adalah bagian dari sejarah hidup ribuan alumninya. Dari kampus ini lahir para profesional, akademisi, pengusaha, birokrat, praktisi hukum, politisi, pendidik, dan berbagai profesi lainnya yang kemudian mengambil peran di tengah masyarakat.
Di situlah sesungguhnya terdapat sebuah kekuatan besar yang mungkin belum sepenuhnya terkonsolidasi: jejaring alumni.
Di tengah perubahan dunia pendidikan tinggi yang semakin cepat, perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan, tetapi juga membangun reputasi, inovasi, jejaring, riset, kewirausahaan, dan relevansi dengan kebutuhan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, IKA Unmer memiliki peluang untuk mengambil peran yang lebih strategis.
Bukan mengambil alih ruang universitas.
Bukan pula menjadi “pengawas” universitas.
Melainkan menjadi strategic partner—mitra yang memperkuat apa yang telah dibangun oleh universitas melalui kekuatan alumni.
Alumni yang berada di dunia usaha dapat membuka akses magang dan kewirausahaan. Alumni profesional dapat menjadi mentor. Alumni akademisi dapat memperluas jejaring penelitian. Alumni yang berada di pemerintahan dapat membuka ruang kolaborasi kebijakan dan pengabdian masyarakat. Alumni yang tersebar di berbagai daerah dapat menjadi simpul perluasan eksistensi Unmer.
Dengan cara demikian, hubungan universitas dan alumni tidak lagi bersifat seremonial.
Kampus memiliki pengetahuan dan tradisi akademik; alumni memiliki pengalaman dan jejaring lapangan. Ketika keduanya bertemu, lahirlah kekuatan yang lebih besar daripada jika berjalan sendiri-sendiri.
Reposisi IKA bukan terutama soal membangun struktur organisasi yang besar. Yang jauh lebih penting adalah membangun ekosistem kontribusi.
IKA dapat menjadi jembatan antara mahasiswa dan dunia profesional, antara kampus dan industri, antara gagasan akademik dan kebutuhan masyarakat.
Bahkan, tidak berlebihan apabila suatu hari Unmer memiliki jejaring alumni yang kuat secara nasional dan internasional—sebuah jaringan yang memungkinkan mahasiswa memperoleh mentor, akses karier, kesempatan magang, beasiswa, jejaring usaha, hingga kolaborasi penelitian.
Jika itu terwujud, maka alumni tidak lagi sekadar menjadi catatan dalam database universitas.
Alumni menjadi salah satu aset strategis almamater.
Eksistensi perguruan tinggi pada akhirnya bukan hanya tentang gedung, jumlah mahasiswa atau berbagai indikator administratif. Eksistensi yang sesungguhnya lahir dari kepercayaan masyarakat terhadap kualitas dan kontribusi sebuah institusi.
Dan reputasi itu dibangun oleh banyak tangan.
Universitas membangun kualitas akademik.
Dosen membangun tradisi keilmuan.
Mahasiswa membawa semangat perubahan.
Dan alumni membawa nama almamater ke tengah masyarakat.
Karena itu, setiap alumni yang bekerja profesional, membangun usaha, melakukan penelitian, memberikan pelayanan publik, atau mengabdikan dirinya kepada masyarakat sesungguhnya sedang membawa nama Unmer bersamanya.
Kemajuan alumni adalah bagian dari reputasi almamater. Dan kemajuan almamater pada akhirnya menjadi kebanggaan seluruh alumni.
Di sinilah kepentingan universitas dan alumni bertemu.
Maka, mungkin sudah waktunya kita memaknai Reuni Akbar Unmer bukan hanya sebagai pertemuan untuk mengingat siapa kita dahulu.
Tetapi sebagai kesempatan untuk menentukan apa yang ingin kita lakukan setelah pertemuan ini selesai.
Kita tidak perlu mempertentangkan masa lalu dan masa depan. Fondasi yang telah dibangun para pendahulu justru harus menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh.
Generasi terdahulu telah meletakkan dasar.
Generasi hari ini memiliki kesempatan memperkuatnya.
Dan generasi berikutnya harus menerima Unmer dalam keadaan yang lebih baik.
Karena itu, Reuni Akbar seyogianya menjadi titik temu antara kenangan, gagasan dan tindakan.
IKA Unmer dapat mengambil peran sebagai mitra strategis universitas—bukan untuk menggurui, bukan untuk mencampuri, tetapi untuk membersamai.
Membersamai Unmer menghadapi perubahan zaman.
Membersamai mahasiswa memasuki dunia profesional.
Membersamai universitas memperluas jejaring dan eksistensinya.
Dan pada akhirnya, membersamai bangsa melalui kontribusi di bidang pendidikan.
Sebab tujuan akhir dari sebuah almamater bukan sekadar melahirkan sarjana.
Lebih dari itu, ia adalah melahirkan manusia yang mampu memberikan arti bagi masyarakat.
Maka mari kita pulang bukan hanya untuk mengenang Unmer, tetapi untuk ikut membangun masa depannya.
Karena almamater yang besar bukan hanya almamater yang memiliki sejarah panjang.
Almamater yang besar adalah almamater yang terus relevan, dipercaya, dan memberi kontribusi bagi zamannya.
Dan mungkin, dari Reuni Akbar inilah, babak baru itu dapat dimulai.
(win)














