indonewsdaily.com,Malang – Pecinta musik rock, khususnya para penggemar permainan gitar cepat dan aksi panggung penuh energi, bersiap menyambut gelaran COUNTFINITY: ROCK ON FIRE – Tribute to Yngwie Malmsteen yang akan digelar Sabtu, 12 September 2026, di H-FIVE LOUNGE, Kota Malang.
Event yang digelar COUNTFINITY dengan tagline “The Flavour of Adventure” ini didukung Malang Lites dan H-FIVE LOUNGE. Konser tersebut secara khusus menghadirkan atmosfer rock klasik sekaligus memberikan penghormatan terhadap karya-karya gitaris virtuoso dunia, Yngwie Malmsteen.
Panggung ROCK ON FIRE bakal diramaikan dua band rock, yakni M-FORCE dan WATU GENI. Selain itu, penonton juga akan disuguhi aksi Roy ‘Big Panzer’, solo guitar, serta Willy ‘Absolute’ yang siap menambah panas suasana konser.
Watu Geni, Energi Rock dari Malang
Salah satu penampil yang menarik perhatian adalah Watu Geni, band asal Kota Malang yang dibentuk pada April 2025.
Band ini lahir dari komunitas musisi yang kerap berkumpul dan melakukan jam session di Studio Musik Rooster, kawasan Sulfat Rivera, milik Oot Syahrani.
Dari ruang latihan dan sesi jam tersebut, muncul gagasan Viki Cemara dan Beni Mekrock untuk membentuk sebuah grup yang tidak hanya bermain musik, tetapi juga serius membangun karya dan identitas sendiri.
Nama Watu Geni sendiri terinspirasi dari slogan “Rock on Fire”. Filosofi tersebut diterjemahkan dalam bahasa Jawa, dengan rock dimaknai sebagai watu dan fire sebagai geni.
Nama tersebut sekaligus menjadi simbol semangat bermusik yang terus menyala. Bagi Watu Geni, musik menjadi ruang untuk berkarya, membangun persahabatan, menyalurkan kreativitas, sekaligus melepas penat dari rutinitas.
Mengusung karakter progressive rock dan classic rock, Watu Geni mendapatkan pengaruh dari sejumlah nama besar seperti Led Zeppelin, Deep Purple hingga Dream Theater.
Berawal dari “Silaturockmi”
Perjalanan Watu Geni di panggung musik dimulai melalui event “Silaturockmi” pada April 2025 di Levels Brewhouse, Kota Malang.
Dalam penampilan perdananya, Watu Geni tampil bersama Sekultura, Whisky dan Absolute. Panggung tersebut menjadi titik awal perjalanan mereka sekaligus menjadi ruang untuk membangun pengalaman dan karakter bermusik.
Formasi awal Watu Geni saat itu terdiri dari Beni Mekrock sebagai vokal dan bass, Adit Ditztorsi pada gitar, serta Indra Glamrock pada drum.
Seiring perjalanan, perubahan personel menjadi bagian dari proses berkembangnya band. Memasuki 2026, Watu Geni semakin diperkuat dengan bergabungnya Ardheny Eve pada keyboard.
Kehadiran keyboard memberikan warna baru sekaligus memperkaya karakter progressive rock dan classic rock yang menjadi identitas musik Watu Geni.
Bagi Watu Geni, perubahan bukan berarti meninggalkan akar. Justru pengalaman dan perjalanan masa lalu menjadi fondasi untuk membangun langkah berikutnya.
Menuju Panggung Tribute Yngwie Malmsteen
Kini, Watu Geni kembali bersiap menghadapi panggung besar melalui ROCK ON FIRE – Tribute to Yngwie Malmsteen.
Bagi mereka, tampil dalam event tersebut bukan sekadar memenuhi jadwal pertunjukan. Panggung ini menjadi bagian lain dari perjalanan Watu Geni dalam memperkenalkan karakter musik sekaligus menjaga semangat rock tetap menyala di Kota Malang.
Watu Geni juga memiliki target untuk terus menghasilkan karya original, baik dalam bentuk single maupun album serta aktif terlibat dalam berbagai event musik.
“Bagi Watu Geni, sebuah band tidak hanya dibangun dari lagu-lagu yang dimainkan. Ada cerita, persahabatan, proses latihan, pertemuan dan pengalaman yang membentuk perjalanan sebuah band,” demikian semangat yang terus mereka bawa.
Dengan konsep panggung “Rock on Fire”, konser ini diproyeksikan menghadirkan dentuman musik rock, distorsi gitar dan atmosfer klasik rock era 1980-an.
Bagi para pencinta rock dan gitar cepat, 12 September mendatang “To Be Rock and Not to Roll”, Watu Geni siap membawa energi rock-nya ke atas panggung. Selama api musik masih menyala, perjalanan mereka belum selesai.(win)








