indonewsdaily.com, Malang — Grup musik Arca Tatasawara tampil memukau pada hari terakhir FM11 yang digelar di Stadion Gajayana, Kota Malang, Minggu (23/8/2026).
Penampilan mereka turut menjadi bagian dari kemeriahan malam penutupan FM11 yang menghadirkan beragam karya dan pertunjukan seni tersebut.
Arca Tatasawara tampil di tengah suasana Stadion Gajayana yang dipadati penonton. Kehadiran mereka mendapat sambutan antusias dari para pengunjung yang menikmati rangkaian pertunjukan musik hingga malam hari.
Dalam gelaran tersebut, Arca Tatasawara tampil bersama sejumlah musisi dan grup musik lainnya, di antaranya Stand Here Alone, Rebellion Rose, MCPR, dan Kos Atos. Deretan penampil tersebut membuat panggung penutupan Festival Mbois 11 berlangsung semakin meriah.
Vokalis Arca Tatasawara, Nova, mengaku senang bisa menjadi bagian dari rangkaian penutupan Festival Mbois 11. Menurutnya, kesempatan tampil di tengah perhelatan kreatif seperti Festival Mbois menjadi pengalaman yang berkesan bagi Arca Tatasawara.
“Kami sangat senang bisa tampil di Festival Mbois 11, apalagi ini menjadi bagian dari malam penutupan. Energinya luar biasa, penonton juga sangat antusias. Buat kami, ini bukan hanya soal tampil di atas panggung, tetapi juga kesempatan untuk bertemu dan berbagi energi dengan teman-teman musisi serta penonton di Kota Malang,” ujar Nova.
Nova berharap keberadaan event yang mewadahi seni budaya dapat terus menjadi ruang bagi musisi lokal untuk berkembang dan memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat luas.
“Semoga Festival yang lain terus ada dan semakin besar. Mudah-mudahan semakin banyak ruang bagi musisi dan pelaku kreatif untuk berkarya. Kami juga ingin terus memberikan karya terbaik dan bisa kembali bertemu dengan penonton di berbagai kesempatan,” tambahnya.
Arca Tatasawara adalah grup musik etnik world music asal Malang, Jawa Timur, yang mengusung misi melestarikan warisan leluhur dan situs candi Nusantara melalui perpaduan alat musik tradisional dan modern.
Asal-Usul dan Filosofi
Asal Nama: Terinspirasi dari pahatan relief pemusik pada abad ke-13 di Candi Jago, Tumpang, Malang, dari masa Kerajaan Singhasari.
Makna Nama: Berarti “keindahan bunyi yang kokoh tertata”. (win)









