Darurat Kekerasan. KNPI Sosialisasi Gerakan Anti Bully di Pondok Tebuireng


‎indonewsdaily.com, Banten – Upaya memperkuat karakter generasi muda di era global terus menjadi fokus utama Pondok Pesantren Tebuireng 09, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Berkolaborasi dengan sebuah lembaga yang memiliki jejaring global terkoneksi di 38 negara yaitu Santri Mendunia dan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Lebak yang hadir diwakili oleh Plt. Asisten Daerah (Asda) III, Dr. H. Iyan Fitriyana, S.HI., M.Pd yang juga menjabat sebagai Ketua PGRI Kabupaten Lebak, menggelar Seminar Kepemudaan bertajuk “Membangun Empati dan Merayakan Keberagaman Tanpa Kekerasan”, Senin (9/2/2025).

‎Menghadirkan tokoh nasional, Dyah Arum Sari, S.H., S.S., M.Pd., C.ST MI, sebagai narasumber utama dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI).

‎Acara seminar yang digelar di Aula Pondok Pesantren Tebuireng itu dihadiri lebih dari 300 siswa-siswi Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang bersekolah dibawah naungan Yayasan PP Nurul Falah, sangat antusias menyimak paparan dari narasumber.

‎Dyah Arum, begitu dia biasa disapa, lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang juga merupakan Staf Ahli di Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (ASPEKSINDO) ini menekankan bahwa, kekerasan di sekolah adalah pelanggaran serius terhadap regulasi negara.

‎”Saya pernah mengajar, pernah menjadi guru, saya memahami dinamika yang terjadi di sekolah. Kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah jelas bertentangan dengan hukum yang berlaku,” tegasnya.

‎Mantan politisi yang pernah menduduki jabatan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai PERINDO Departemen Perempuan dan Anak ini, memberikan pesan mendalam mengenai penanggulangan kekerasan yang harus dimulai dari membangun empati di dalam diri dan pembentukan karakter sejak dini.

‎”Membangun empati itu bukan proses instan, melainkan perjalanan panjang yang harus dimulai sejak masa kanak-kanak hingga remaja. Jika kita terbiasa peduli dan merasakan apa yang dirasakan orang lain sejak di bangku sekolah, maka karakter itu akan mengakar hingga kita dewasa kelak,” ujarnya disambut antusias para santri.


‎Sebagai Ketua Dewan Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Pascasarjana se Indonesia (DPP HMPI) Bidang Perempuan dan Anak, Dyah dikenal sangat konsisten dalam menyuarakan anti kekerasan dan perundungan di lingkungan pendidikan.m Sejak duduk di bangku kuliah, dirinya telah menjadi pembicara di berbagai forum dan dalam kesempatan itu Dyah pun mengingatkan bahwa pemerintah telah memperkuat perlindungan anak melalui berbagai kebijakan hukum yang ketat.

‎Menurutnya, ada beberapa regulasi utama yang menjadi rujukan dalam pencegahan kekerasan di sekolah antara lain Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, khususnya Pasal 76C yang melarang keras segala bentuk kekerasan terhadap anak. Dan Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP), yang mewajibkan sekolah membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) serta Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 yang memperluas cakupan pencegahan kekerasan hingga ke jenjang pendidikan tinggi.

‎Pengasuh Pondok Pesantren Modern Nurul Falah Tebuireng 09, KH. Ahmad Rafiudin, S.Ag., menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam atas terselenggaranya seminar kepemudaan ini.

Menurutnya, kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah, dan tokoh pemuda nasional adalah kunci dalam membentuk karakter santri yang adaptif namun tetap berakhlak mulia.

‎”Kami sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Lebak, yang terus memberikan dukungan moril bagi kemajuan pendidikan di pesantren kami, khususnya melalui kehadiran Bapak Dr. H. Iyan Fitriyana, S.HI., M.Pd selaku Asisten Daerah III,” tuturnya.

‎Secara khusus, pemuka agama yang telah menelurkan beberapa buku ini memuji paparan materi yang disampaikan oleh narasumber.

‎”Kehadiran Ibu Dyah Arum Sari memberikan cakrawala baru bagi para santri. Rekam jejak beliau di level nasional serta kepakarannya dalam isu perempuan dan anak sangat relevan dengan kebutuhan santri saat ini. Beliau tidak hanya bicara teori, tapi membawa semangat nyata tentang bagaimana empati harus menjadi napas dalam kehidupan sehari-hari agar tidak ada lagi celah bagi kekerasan di lingkungan pendidikan,” pungkasnya. (RD).


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *