indonewsdaily.com, Malang – Sebelum 11 Agustus, Kota Malang sudah mulai dipenuhi nuansa biru. Spanduk, bendera dan mural bergambar singa dengan tulisan “Singo Edan” bermunculan di perempatan, warung kopi, hingga pagar sekolah.
Bagi Aremania, itu bukan sekadar dekorasi. Itu penanda bahwa hari lahir Arema sudah dekat.
Tahun ini, 2026, Arema genap berusia 39 tahun. Klub yang berdiri pada 11 Agustus 1987 itu tetap menjadi identitas utama Arek Malang.
Dan di tengah riuh persiapan HUT, muncul kembali diskusi lama yang selalu hangat setiap Agustus: sebenarnya apa makna “Singo Edan”.
Julukan Singo Edan melekat pada Arema sejak era 1980-an. Awalnya dipakai suporter untuk menggambarkan semangat tim yang tak kenal lelah di lapangan.
Lama-lama kata itu naik kelas. Ia jadi sebutan resmi klub, jadi nama koreo, jadi nama komunitas, bahkan jadi bagian dari wajah Kota Malang.
Simbol singa sendiri sudah lama hadir di ruang publik Malang. Yang paling dikenal adalah tiga patung singa di depan Stasiun Kota Baru.
Patung itu dibangun pada masa pemerintahan Wali Kota Malang Anton dan sampai sekarang jadi titik foto wajib wisatawan.
Namun menurut budayawan Malang, simbol yang kita pakai sekarang belum tentu sama dengan simbol yang dulu hidup di tanah ini.
Ki Suroso, maestro Tari Topeng Malangan sekaligus Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Malang, menyebut masyarakat Malang sebenarnya punya versi singa sendiri. Namanya Singa Murti.
“Sekarang yang digunakan singa luar negeri, tetapi kita sendiri memiliki singa, yaitu Singa Murti. Sebelumnya Singosari itu, di mana Singa Murti itu simbol dari Kerajaan Singosari termasuk pasukannya,” ujar Ki Suroso saat ditemui di kediamannya, Sabtu (8/8/2026).
Dalam penggambaran tradisional, Singa Murti tidak sama dengan singa Afrika atau singa Eropa. Bentuknya lebih stylized, kadang bertaring besar, bermata melotot dan pada beberapa relief bahkan digambarkan memiliki sayap. Ia bukan hewan biologis semata, tapi wujud kekuatan, kewibawaan dan penjaga.
Karena itu Ki Suroso menilai tiga patung singa di Stasiun Kota Baru belum sepenuhnya mewakili karakter lokal.
“Kalau di depan Stasiun Kota Baru dibuat patung tiga singa, itu simbol yang dibuat teman-teman dari Kediri, yaitu Mas Jamran, untuk singa sebagai simbol Malang. Tetapi singanya model Eropa, bukan singa model kita,” jelasnya.
Ia tidak mempersoalkan karyanya. Menurutnya itu tetap bagian dari sejarah. Hanya saja, penting bagi generasi sekarang tahu bahwa Malang punya referensi sendiri yang jauh lebih tua, yaitu dari masa Kerajaan Singosari.
Bagian paling menarik dari penjelasannya adalah soal kata “edan”. Selama ini banyak yang mengartikan Singo Edan sebagai “singa gila”. Kesannya liar, brutal, tak terkontrol.
Ki Suroso meluruskan. Dalam dialek Malang, kata edan dan gendeng punya lapisan makna lain.
“Edan itu bukan gendeng atau gila, tetapi edan itu hebat. Sama dengan istilah Malangan, ‘edan arek iki rek’, ‘gendeng arek iki rek’, karena saking hebatnya,” ungkapnya.
Ia mencontohkan: kalau ada pemain Arema mencetak gol dari tengah lapangan, orang Malang akan spontan bilang “edan tenan”. Maksudnya bukan menghina, tapi kagum.
“Jadi seperti itu. Singo Edan itu edan gila enggak? Bukan. Tetapi menurut saya Singo yang hebat sekali, akhirnya hebat,” tegasnya.
Dengan pemaknaan itu, Singo Edan berubah dari julukan emosional menjadi gelar kehormatan. Ia menggambarkan kekuatan luar biasa, mental baja, dan daya juang yang tidak biasa.
Pembahasan Ki Suroso tidak berhenti di simbol. Ia menarik benang merah ke tradisi spiritual di wilayah Kabupaten Malang.
Menurutnya, simbol singa juga terkait dengan konsep kesaktian dalam kepercayaan lokal. Salah satu jejaknya bisa ditemukan di Kecamatan Pakisaji.
“Kalau di tempat saya di Kedung Monggo, Pakisaji, Kabupaten Malang, ada petilasan Mbah Sindu Moyo dan Mbah Raseh atau Singo Moyo yang ada di Genengan, Pakisaji. Ini rentetan satu fase,” tuturnya.
Nama “Singo Moyo” di situ diyakini masyarakat sekitar sebagai bagian dari rantai cerita tentang para leluhur penjaga wilayah.
Bagi Ki Suroso, itu bukti bahwa simbol singa sudah mengakar jauh sebelum sepak bola masuk ke Malang. Ia hidup di cerita rakyat, di tari, di petilasan dan di cara orang Malang memaknai keberanian.
Menjelang HUT ke-39, pemahaman ini memberi warna baru bagi Aremania. Singo Edan bukan hanya teriakan di stadion. Ia adalah pengingat akan warisan budaya.
1. *Kekuatan*: seperti Singa Murti yang jadi simbol pasukan Singosari
2. *Keberanian*: seperti makna “edan” sebagai sesuatu yang luar biasa
3. *Akar lokal*: agar identitas Arema tidak lepas dari tanah tempatnya berdiri
Bagi Ki Suroso, penting untuk terus merawat narasi itu agar anak muda Malang tidak hanya hafal lagunya, tapi juga tahu ceritanya.
“Kita boleh pakai simbol dari mana saja. Tapi jangan lupa, kita punya sendiri kalau kita kenal, kita bangga, kita jaga,” katanya.
Hingga Sabtu malam, persiapan HUT ke-39 sudah berjalan di berbagai titik. Panitia Aremania pusat dijadwalkan menggelar doa bersama dan karnaval budaya pada 10 Agustus malam. Beberapa komunitas juga menyiapkan bedah sejarah Singa Murti di kampus-kampus.
Di Jalan Ijen, spanduk besar bertuliskan “39 Tahun Singo Edan, Tetap Militan” sudah terpasang. Di bawahnya, ada gambar singa dengan mahkota.
Entah sengaja atau tidak, bentuknya mulai mengingatkan pada penggambaran Singa Murti di relief candi.
Mungkin itu pertanda kecil. Bahwa setelah 39 tahun, Arema dan Malang pelan-pelan mulai menoleh ke belakang, untuk mencari jati diri yang lebih dalam dari sekadar julukan.
Karena pada akhirnya, menjadi “edan” di Malang artinya satu hal: berani tampil hebat, dengan cara kita sendiri. (win).














