indonewsdaily.com, Malang- Puluhan pemuda dari berbagai komunitas lingkungan hidup di Kota Batu, diantaranya Warga Gunung, Titik Dua Kolektif serta kelompok komunitas lainnya menggelar nonton bersama kisah dokumenter warga Kota Batu mempertahankan sumber mata air Gemulo di daerah Kecamatan Bumiaji. Hingga, pada akhirnya tidak menyetujui adanya pelaksanaan proyek Geotermal diperkirakan di kaki gunung Arjuno-Welirang, Selasa (29/4/2025) malam.
Koordinator Pelaksana Kegiatan, Ciwen Ilusi, dari Komunitas Titik Dua Kolektif mengatakan, kegiatan nonton bareng film dokumenter sumber mata air Gemulo bersama sejumlah komunitas tersebut merupakan rencana awal sebelum memperingati Hari Buruh atau Meiday, besok 1 Mei 2025.
“Sebelum di kegiatan Meiday, besok 1 Mei, kita perlu adanya awalan dulu. Yaitu, salah satunya menonton bersama mengenai kisah dari sumber mata air Gemulo dan, kita berdiskusi bersama,” terang Ciwen, di sebuah kafe, di Desa Binangun, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Sebab, tambah Ciwen, kalau dirunut sebelumnya bahwa di Kota Batu belum pernah merayakan Meidy. Maka, inilah yang bisa menjadi titik awal di Kota Batu.
“Mengapa memilih untuk menonton film dokumenter soal sumber mata air Gemulo. Karena, menurut kami salah satu perjuangan untuk terus diingat. Bahwa, perjuangan itu sampai pada titik kemenangan walaupun sampai pada tingkat pengadilan.Jadi, nggak banyak perjuangan yang bisa menang seperti ini. Mengapa, kemudian itu kita putar ulang,” ujarnya.
Mengenai sumber mata air Gemulo, menurut Ciwen, dikarenakan ada keterkaitan agenda pemerintah berencana membangun proyek Geotermal di wilayah Kota Batu.
“Jadi, Kota Batu termasuk ke dalam proyek strategi nasional pembangunan Geotermal. Ada di beberapa titik salah satunya di Arjuno-Welirang sebagian wilayah Kota Batu dan sebagiannya Mojokerto. Untuk realisasinya, desas desus pada 2030 mendatang,” urainya.
Selanjutnya Ciwen, menegaskan terkait pembangunan Geotermal yang nantinya bisa merusak lingkungan. Maka, dibahas mulai sekarang oleh puluhan kelompok aktivis lingkungan hidup Kota Batu.
“Ini kita bahas mulai sekarang, dengan menyuarakan sumber mata air. Lalu, perubahan Kota Batu dari kota agraris sampai menjadi kota pariwisata. Dan, ujung-ujungnya menyangkut Geotermal. Menurut kami itu penting,” tandasnya.
Maka, kembali dijelaskannya, dengan menonton bersama ini memantik para pemuda bahwa dibalik keindahan pariwisata di Kota Batu ternyata masih banyak rencana-rencana yang tidak diketahui oleh masyarakat.
“Ini sebenarnya lebih dari yang kita harapkan. Artinya, harapan kita bisa memantik kawan-kawan yang lain. Bahwa ini tidak hanya pada lingkup terkecil tetapi bisa menyebar ke kelompok yang lain. Dan, nanti di Meidy tentunya melibatkan teman-teman yang ada di luar jangkauan kami. Yang jelas, memberikan kesadaran kepada yang lain. Dengan kesimpulan, kami tidak setuju dengan pembangunan Geotermal,” tegasnya.( */win)













