Indonewsdaily. Com, Mojokerto — Kesehatan guru, merupakan aspek krusial yang sering terabaikan. Padahal, kesehatan guru memiliki dampak langsung pada kualitas pembelajaran, lingkungan belajar, dan prestasi siswa. Profesi guru di Indonesia, terutama ditingkat dasar dan menengah, seringkali dihadapkan pada beban kerja yang sangat berat. Jam mengajar yang panjang seringkali mengajar lebih dari 24 jam pelajaran per minggu, belum termasuk tugas tambahan.
Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga harus mengurus berbagai administrasi pembelajaran. Perubahan kurikulum yang dinamis dan tuntutan untuk mencapai standar pendidikan yang tinggi dapat menambah tekanan. Kelas dengan jumlah siswa yang besar memerlukan energi dan perhatian ekstra dari guru. Guru juga menghadapi ekspektasi tinggi dari orang tua dan masyarakat terkait perkembangan anak didiknya. Kombinasi faktor-faktor ini dapat menyebabkan tingkat stres yang tinggi, kelelahan fisik dan mental (burnout), serta memicu berbagai masalah kesehatan. Tidak semua sekolah menyediakan program pemeriksaan kesehatan rutin atau skrining penyakit bagi guru. Ketersediaan tenaga kesehatan: Keberadaan perawat atau dokter sekolah yang dapat memberikan konseling kesehatan atau penanganan awal bagi guru masih sangat minim.
Guru rentan terhadap berbagai masalah kesehatan fisik dan mental yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar mengajar. Masalah kesehatan tersebut diantaranya meliputi penyakit musculoskeletal (masalah pada tulang, otot, dan sendi akibat berdiri terlalu lama, posisi duduk yang salah, atau gerakan repetitive).
Gangguan suara dan tenggorokan akibat sering berbicara di kelas. Penyakit degenerative
karena tekanan pekerjaan dan gaya hidup dapat memicu atau memperparah hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung. Penggunaan gawai dan persiapan materi yang intensif dapat memengaruhi kesehatan mata. Stres pekerjaan yang berkepanjangan dapat berujung pada masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, atau insomnia.
Pada tanggal 25 November 2024 kepala SMP Negeri 2 Mojokerto, Mulib, S.Pd, M.Pd menyampaikan keberhasilan inovasi PERI TAMA UKS SPENDA MOKO (Periksa Kesehatan Mandiri UKS SMP Negeri 2 Mojokerto Kota), sebagai solusi permasalahan kesehatan guru. Penyampaian inovasi tersebut bersamaan dengan kegiatan Panen Karya Pembelajaran Kurikulum Merdeka SMP Negeri 2 Mojokerto sekaligus puncak peringatan Hari Guru.
Kegiatan dihadiri oleh seluruh warga sekolah baik siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Inovasi PERI TAMA UKS SPENDA MOKO merupakan pelayanan kesehatan mandiri yang dilaksanakan secara berkala satu bulan sekali kepada warga sekolah (siswa, guru, dan tenaga kependidikan). Tujuan dari inovasi PERI TAMA UKS SPENDA MOKO ini adalah untuk 1) Mendeteksi dini penyakit yang diderita, 2) Meningkatkan kesadaran akan kesehatan diri, 3) mencegah penyebaran penyakit menular, dan 4) Meningkatkan kualitas pembelajaran.
Penyelenggaraan pemeriksaan kesehatan bagi guru melalui inovasi PERI TAMA UKS SPENDA MOKO ini menunjukkan bahwa SMP Negeri 2 Mojokerto memiliki komitmen untuk memperhatikan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan.
Secara keseluruhan, pemeriksaan kesehatan bagi guru merupakan investasi penting dalam sumber daya manusia pendidikan. Guru yang sehat adalah aset berharga yang dapat berkontribusi maksimal dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan berkualitas bagi generasi mendatang.








