indonewsdaily.com, Malang– Pekik “merdeka belajar” menggema lagi di halaman Yayasan Perguruan Sriwedari Malang.
Tepat di usianya yang ke-80, yayasan yang berdiri sejak 1946 itu menggelar tasyakuran sekaligus prosesi pelepasan siswa serentak 4 jenjang: TK, SD, SMP, dan SMK. Ribuan pasang mata orang tua, guru, dan tamu undangan menyaksikan langsung momen “8 Dekade Membangun dan Mencerdaskan”.
Acara dipusatkan di kompleks Sriwedari, Senin pagi. Nuansanya khidmat sejak pembukaan. Barisan siswa lulusan maju satu per satu.
Puncaknya prosesi penyerahan kembali peserta didik dari sekolah kepada orang tua. Simbol sederhana tapi bikin banyak wali murid meneteskan air mata. Itu tanda masa belajar di Sriwedari selesai, dan tanggung jawab kini berlanjut di rumah serta masyarakat.
Wali Kota dan Ketua Yayasan kompak beri pesan, Turut hadir Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, Ketua Yayasan Dr. Made Arya Wedantara SH http://M.Si, jajaran Pemkot, mitra dunia usaha dan dunia industri, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, serta ratusan wali murid.
Dr. Made Arya Wedantara menyebut pelepasan serentak ini sengaja dilakukan. “Tujuannya biar ada rasa kekompakan. Dari anak TK yang baru bisa baca, sampai kakak SMK yang siap kerja, kami lepas bersama. Karena semangat Sriwedari itu satu: gotong royong mendidik,” ujarnya di sela acara.
Pesan beliau ke lulusan tegas tapi hangat. Hormati guru dan orang tua. Terus belajar, jangan berhenti meski ijazah sudah di tangan. Dan jangan takut punya mimpi besar. “Ijazah hari ini bukan garis finish. Ini tiket keberangkatan kalian untuk bangun masa depan bangsa,” katanya.
Dari Pemkot, Wali Kota Wahyu Hidayat memberi apresiasi. Delapan dekade konsistensi mendidik warga Malang bukan hal ringan.
“Sriwedari sudah melewati zaman kemerdekaan, orde baru, reformasi, sampai era digital. Tapi komitmennya tetap: mencerdaskan anak bangsa. Pemkot berterima kasih atas kontribusi itu,” ucap Wahyu.
Beliau juga mengingatkan formula pendidikan yang kuat: sekolah ngajar, keluarga tanamkan karakter, pemerintah siapkan kebijakan. “Kalau 3 pilar ini jalan bareng, anak Malang pasti bisa bersaing, bahkan di level global,” tambahnya.
Dari sekolah rakyat 1946 ke SMK siap kerja 2026, Sejarah Sriwedari dimulai pasca kemerdekaan. Awalnya sekolah rakyat sederhana.
Kini yayasan menaungi 4 jenjang lengkap. SMK-nya paling disorot karena kurikulumnya disusun bareng industri Malang Raya. Alhasil banyak lulusan yang sudah di-hire perusahaan sebelum wisuda.
Selama 80 tahun, alumni Sriwedari tersebar luas. Ada yang jadi ASN, TNI/Polri, dokter, pengusaha, sampai kreator digital.
Beberapa kembali ke almamater sebagai guru. Itu jadi bukti lingkaran kebaikan yang terus berputar.
Tatap dekade ke-9 dengan inovasi, Usia 80 tidak bikin Sriwedari berhenti. Dr. Made Arya menegaskan yayasan masuk fase transformasi. Fokusnya 3 hal: penguatan project based learning, pendidikan karakter yang makin aplikatif, dan digitalisasi kelas. Untuk SMK, kerja sama magang dan sertifikasi kompetensi bakal diperluas.
“Tema 8 Dekade Membangun dan Mencerdaskan itu janji. Kami mau dekade ke-9 Sriwedari melahirkan lulusan yang berkarakter kuat, kompeten, berdaya saing, tapi tetap punya akar budaya bangsa,” tegasnya.
Acara ditutup doa bersama dan ramah tamah. Lulusan SMK tos-tosan dengan HRD perusahaan mitra. Siswa TK peluk gurunya erat. Orang tua sibuk foto bareng di depan gapura Sriwedari. Haru, bangga, dan optimis jadi satu.
Delapan dekade sudah dilewati. Sriwedari Malang membuktikan pendidikan yang konsisten dan kolaboratif bisa bertahan, tumbuh, dan tetap relevan mencetak generasi penerus bangsa. (win).








