indonewsdaily.com, Malang – Denyut sebuah kota kerap bisa dibaca dari terminalnya. Dari tempat orang datang dan pergi, geliat ekonomi bertumbuh, cerita sosial bertaut. Di Kota Malang, simpul itu kini sedang dirawat ulang lewat rintisan Museum Terminal yang digagas oleh seorang warga Kota Malang.
Inisiatif tersebut digerakkan oleh Arief Wibisono. Atau yang biasa di panggil Bison. Ia terdorong menyusun ulang sejarah terminal setelah menemukan arsip lama milik sang kakek yang pernah memimpin Terminal Patimura pada dekade 1970-an. Dokumen-dokumen itu, menurutnya, bukan sekadar kertas usang, melainkan potongan memori kota yang nyaris hilang.
“Rasanya sayang kalau hanya tersimpan. Harus ada upaya merangkum dan membagikannya ke publik,” ujar Arief.
Alih-alih langsung membangun ruang pamer, Arief memulai dari riset dan penulisan buku berjudul Sejarah Peradaban Terminal Kota Malang. Buku tersebut menjadi fondasi narasi museum sekaligus rujukan awal untuk memahami bagaimana terminal berkembang seiring perubahan tata kota.
Ia menyebut terminal sebagai cermin pertumbuhan populasi, pola mobilitas, hingga pergeseran pusat ekonomi. Dari penelusurannya, terminal pertama Kota Malang berada di kawasan Pecinan dekat Pasar Besar. Sejak masa kolonial, lokasi terminal memang ditempatkan berdekatan dengan pusat niaga agar aktivitas perdagangan dan transportasi saling menguatkan.
Perpindahan kemudian terjadi ke Sawahan, yang kini menjadi area SPBU, lalu ke kawasan Trunojoyo pada era 1960-an. Tonggak berikutnya adalah Terminal Patimura yang mulai difungsikan pada 1969 dan diresmikan pada 1972.
Seiring lonjakan kendaraan dan pertumbuhan kota, kapasitas Patimura tak lagi mencukupi. Pada 1989, operasional dipindahkan ke Terminal Arjosari yang berstatus tipe A dan melayani angkutan antarkota antarprovinsi.
Menurut Arief, perjalanan itu menunjukkan bahwa terminal selalu bergerak mengikuti denyut zaman. Karena itu, konsep museum yang ia siapkan bukan sekadar ruang pajang benda lama. Ia merancangnya sebagai living museum, ruang interaktif yang memungkinkan pengunjung menyusuri alur waktu transportasi Kota Malang.
Hampir 100 foto dokumenter telah dikumpulkan, mulai dari periode kolonial hingga perkembangan Terminal Arjosari. Termasuk dokumentasi Terminal Blimbing yang kini beralih fungsi menjadi kantor Telkom.
Area lobi museum nantinya akan menampilkan panel foto sejarah, sementara lantai dua disiapkan untuk memamerkan seragam dinas pegawai terminal sebelum pengelolaan berada di bawah dinas perhubungan.
“Orang tidak cuma melihat foto, tetapi merasakan perjalanan ruang dan waktunya,” kata Arief.
Hingga kini, progres pembangunan museum disebut telah mencapai sekitar 60 persen. Selain ruang pamer, Arief juga merancang program mini tour jejak terminal. Tur edukatif itu akan mengajak peserta mengunjungi titik-titik bekas terminal di Kota Malang untuk memahami langsung transformasi kawasan.
Bagi Arief, museum ini bukan sekadar nostalgia. Ia berharap ruang tersebut menjadi pusat literasi sejarah urban sekaligus destinasi wisata edukatif baru. Terminal, dalam pandangannya, bukan hanya tempat singgah kendaraan, melainkan saksi perubahan sosial dan ekonomi yang membentuk wajah Kota Malang hari ini.(win).








