Sembilan Titik Pohon Tumbang Pasca Hujan Disertai Angin Kencang di Kota Malang

Indonewsdaily.com, Kota Malang – Hujan deras disertai angin kencang itu terjadi sekitar 2,5 jam, berlangsung sejak pukul 12.30 WIB hingga pukul 15.00 WIB, Kamis (23/12/2021) siang.

Akibat kejadian tersebut, beberapa pohon mengalami tumbang dan beberapa bangunan juga mengalami kerusakan.

Kepala BPBD Kota Malang, Alie Mulyanto mengatakan selain kejadian pohon tumbang, beberapa atap bangunan juga sempat rusak terdampak hujan disertai angin kencang tersebut. Tercatat, ada tiga bangunan yang yang terdampak hujan disertai angin kencang.

“Hingga saat ini, ada sembilan laporan masuk terkait pohon tumbang. Dari data yang kami dapat, belum ada korban jiwa, hanya korban material,” ujarnya kepada awak media.

Sembilan titik pohon tumbang, tercatat berada di Jalan Danau Kerinci, Jalan dr. Cipto, Jalan Parangtritis, Jalan Sulfat (dekat SPBU), Jalan Timah Ciliwung, Jalan Sunandar Priyo Sudarmo, di depan SMPN 24 Malang, Jalan Brigjen Slamet Riadi dan Jalan Kaliurang Barat.

Sedangkan untuk titik kejadian angin kencang, berada di Jalan Terusan L.A. Sucipto (utara Kantor Dinkes Kota Malang), di Jalan Sulfat (dekat SPBU Sulfat), dan di wilayah RT. 8 RW. 15 Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing.

“Untuk korban material, saat ini kami masih melakukan asesmen. Selanjutnya, akan kami tindak lanjuti dengan memberikan bantuan. Kami juga akan berkomunikasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang untuk tindak lanjutnya,” ungkapnya.

Sementara Kepala Stasiun BMKG Malang, Anung Suprayitno menjelaskan bila cuaca ekstrem berupa hujan lebat bercampur es, badai guntur dan puting beliung yang terjadi disebabkan adanya awan cumulonimbus (CB) yang terbentuk akibat pemanasan terik pada siang hari.

“Awan CB pada tahap matang mengalami pendinginan (kondensasi) ekstrem sehingga berpotensi turun masih dalam bentuk partikel es. Hujan es hanya berasal dari awan CB, tetapi tidak setiap awan CB menimbulkan hujan es atau hail,” papar dia.

Menurutnya, fenomena hujan es bersifat sangat lokal, kisaran 5 hingga 10 kilometer, dalam waktu yang singkat serta memiliki kemungkinan kecil untuk terjadi kembali di tempat yang sama.

“Terjadinya cuaca ekstrem adalah hal yang lumrah pada masa pergantian musim hingga musim hujan. Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap fenomena cuaca ekstrem beserta potensi dampak yang ditimbulkan, terutama di area yang rawan bencana hidrometeorologi,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *