indonewsdaily.com, Malang- Diskusi publik sosialisasi empat pilar kebangsaan, terkait Pancasila, UUD 45,NKRI dan Bhimeka tunggal ika, hari Jumat (21/2/2025). bertempat di Resto Kertanegara Jl. Kertanegara No.1, Klojen, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur.
Acara ini menghadirkan langsung Ahmad Irawan SH, MH Komisi 2 Anggota DPR RI Dapil Malang Raya.dari partai GOLKAR, DR Ahmad Nur Ahmadi praktisi dan dosen Universitas Negeri Malang, Kepala BPN kota Malang dan Kabupaten Malang
dirut utama jatimtime, aktifis mahasiswa, para Pimred, wartawan, AJI, IJTI, PWI, JMSI Malang.
Ahmad Irawan SH, MH menjelaskan terkait diskusi publik pada sore itu bahwa diskusi, ngopi silahturahmi, adalah budaya masyarakat kota Malang.
” Budaya ngopi dan Diskusi adalah tradisi masyarakt kota Malang, hal ini bisa menjadi jembatan dan bisa menampung aspirasi masyarakat kota Malang, kita disini adalah mensosialisasikan dan kewajiban moral yang akan saya sampaikan serta menginformasikan dari anggota badan legislasi di DPR RI,” ucapnya.
Ia menambahkan dengan acara ini maka bisa mengakomodir orang-orang pinter yang ada di Malang sehingga kita bisa merumuskan kebijakan apa yang akan kita tampung aspirasinya
“Seperti BPN (Badan Pertanahan Nasional) yang mana punya program pokok PTSL yang mana kota Malang perlu diapresiasi karena keberhasilannya” kata Irawan.
Irawan juga menjelaskan untuk jatah PTSL Malang Raya akan berkurang.
“Agar masyarakat mengetahui, akibat efisiensi jadi mohon teman media untuk bisa mensosialisasikan kepada masyarakat,” ucapnya
Selanjutnya Irawan menjelaskan terkait efisiensi anggaran itu adalah transisi dari Presiden Jokowi ke Presiden Prabowo,
“Maka biasa setiap pimpinan punya program sendiri sendiri dan itu wajar, setelah ini dirasionalilasi jadi politik anggarannya sesungguhnya semua kebijakan itu untuk kesejahteraan masyarakat seperti pemangkasan anggaran yang tidak terlalu di perlukan, DPR dan Pemerintah akan terus mengkaji terkait subsidi di berbagai sektor,” tambahnya.
Sedangkan DR Ahmad Nur Ahmadi praktisi dan dosen Universitas Negeri Malang, menanggapi kaitan dengan pendidikan dispalitasnya tinggi sekali perbedaanya sangat jauh fasilitas, kwalitasnya.
“Jadi antara kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu karena Kota Malang mempunyai kultur pendidikan yang berbeda, termasuk kualitas dan fasilitas belajar mengajar, maka perlu adanya kesesuaian di segala lini, Malang merupakan kota pendidikan, sekali lagi saya mengapresiasi terkait budaya ngopi dan diskusi, ini karena kota Malang adalah basis kota pendidikan (win)








