MEMBANGUN EKOSISTEM PERFILMAN DI MALANG

Indonewsdaily.com, Kota Malang – “Acara ini tak sekedar even yang setelah usai digelar lalu menguap begitu saja, namun agenda ini lebih pada movement. Sebuah gerakan yang diharap akan terus bergulir dan berdampak baik bagi dunia perfilman kota ini,” ucap Yosof.

Yosof, owner Mooifilms, yang menggandeng beberapa prinsipal seperti Sony, Zeiss dan ADM Teknologi, menggelar seminar dan workshop bertajuk Fidek (Film Pendek) di MCC Malang, 4 – 5 April 2023.

Dasar-dasar sinematografi serta pengenalan alat produksi menjadi materi seminar dan workshop. Yosof sendiri menjadi salah satu pembicara untuk materi script development di hari kedua.

Ratusan ribu pelajar yang datang ke Malang tiap tahun untuk meneruskan pendidikannya di beberapa perguruan tinggi menjadi potensi besar dari beragam industri kreatif. Salah satunya di bidang sinematografi. Tak salah bila pabrikan semacam Sony dan Zeiss yang memproduksi lensa khusus dalam pembuatan film atau cine lens, tertarik untuk membidik generasi yang lekat dengan kreativitas.

Selasa, 4 April 2023, ratusan peserta nampak hadir di dua studio yang berada di lantai lima gedung baru itu. “Tiga ratusan peserta yang hadir,” kata Wawan, salah satu panitia. Sebagian peserta berasal dari beberapa sekolah menengah yang terlihat dari seragam yang mereka pakai. “Kami ada tugas dari sekolah. Persiapan menghadapi Ujian Kompetensi Keahlian (UKK) Perfilman,” ujar Viananda, salah satu pelajar kelas 12 dari SMK NMC Malang yang hadir di sesi sinematografi.

Ismail Fahmi Lubis, lulusan IKJ, pemateri dalam cinematography and directing di awal pertemuannya banyak memaparkan pengalamannya sebagai seorang pembuat film dokumenter. Beberapa kali, dia memutar sekelumit film dokumenter karyanya sebagai selingan. “Apapun bisa dijadikan film dokumenter, bahkan hal-hal yang nampak sederhana sekalipun. Malang mempunyai potensi besar untuk itu,” tutur pria yang pernah memproduksi film dokumenter di banyak peristiwa sosial.

Ismail Fahmi juga banyak memotivasi peserta ketika memutuskan menjadi seorang sinematografer. “Bahasa visual adalah bahasa universal, bahkan film bisu pun bisa dimengerti kala kita menontonnya. Bahasa visual menjadi bahasa yang penting di era saat ini,” ucapnya.

Seperti kita tahu, sinematografer adalah orang yang bertanggung jawab menginterpretasikan skenario, baik secara teknis maupun nonteknis semua aspek visual dalam pembuatan film. Sinematografer juga harus mendukung visi dari sutradara, karena bagaimana pun yang akan disampaikan pada penonton adalah semua bentuk visual yang sesuai dengan visi sutradara dan visi skenario, meski di beberapa kasus, sutradara bisa mengubah jalan cerita dalam skenario untuk mengakomodir estetika yang merupakan gaya sutradara tersebut.

Enggong Supardi, salah satu pemateri di sesi ini, menerjemahkan sinematografi sebagai visual art story telling.

“Terciptanya ekosistem perfilman di Malang menjadi tujuan dari penyelenggaraan ini,” ringkas Yosof saat ditemui di sela penyelenggaraan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *