Pernikahan dan Hubungan, Kenapa Kebahagiaan Rumah Tangga Susah Tercipta (Part 1)

indonewsdaily.com, Indo Konsultasi – Dibesarkan dengan orang tua tunggal, saya cukup percaya diri untuk mengatakan saya memiliki pengalaman pribadi yang sangat beragam. Menginjak sekolah dasar saya telah mendengarkan setidaknya 2 kisah dan keluhan dari ibu-ibu rekan kerja orang tua yang ikut mengasuh saya, setiap hari selama 6 tahun. Bapak-bapak lebih singkat dan praktis dalam menuturkan permasalahan rumah tangganya; “Istriku minta ini, nih…” lantas cenderung meminta saran pada rekan kerja terdekat.

Tidak jarang rekan kerja menjadi lebih dekat daripada pasangan sendiri karena waktu yang dihabiskan 8 jam di kantor lebih panjang daripada 12 jam di rumah. Besar dan tinggal di Jakarta sejak tahun 1986, meyakinkan saya bahwa hubungan tidak akan bisa tercipta dan bahagia jika terpisah dari jarak yang begitu jauh. Setiap hari saya melihat bahkan mengalami kelelahan perjalanan dari rumah – sekolah – kantor Ibu – rumah, dengan situasi jalanan padat, macet, panas dan polusi, berbagai hal yang menambah beban pikiran setiap hari. 

1997 saya mulai mengenal internet, dengan otak muda yang lapar dengan informasi dan pengetahuan, membuat saya melek bahwa kebahagiaan itu bukanlah ilusi, melainkan keyakinan. Kebahagiaan berumah tangga bukan nilai yang bisa didapatkan, tetapi sebuah dinamika yang diciptakan, dikondisikan, dipelihara, dan dibagikan.

Sejak forum-forum chat terbentuk, makin banyak pula saya mendengarkan dan membaca banyak cerita tentang suka duka hubungan asmara baik dalam pernikahan maupun tinggal bersama. Sejak itu pula saya mulai mencoba memahami dan menghormati perbedaan nilai-nilai budaya masyarakat terhadap pernikahan dan rumah tangga, dan banyak pasangan yang merasa tidak bahagia bersama pasangannya karena terjebak dalam sesat pikir (logical fallacy).

Beberapa kesalahan-kesalahan umum pada pasangan yang merasa kurang atau tidak bahagia adalah;

Membandingkan satu hal dengan sejarah atau tradisi (argumentum ad antiquitatem). Hal ini yang paling banyak terjadi di Indonesia dan Asia. Sudah menjadi ‘akar’ budaya bahwa restu orang-tua dan keluarga menjadi penting bagi kedua insan menjalin hubungan bahkan sebelum ke jenjang pernikahan.

Saya yakin banyak orang indonesia yang familiar dengan kalimat berikut; 

“Jika satu saja dari orang tua tidak restu, pernikahan tidak akan benar-benar langgeng dan bahagia.”

Nah, di sini lah humor-humor tentang ‘mertua’ tercipta.

Kenapa tanaman ini (sansivieria) dinamakan lidah mertua? — tanyaku kepada mendiang nenek saya.

Beliau tersenyum lembut tapi sirat matanya mengharu; Ini tanduran yang bandel, mau panas dingin, subur atau gersang, dimanapun dia bisa tumbuh, susah matinya… diapain aja tetep ada, seperti lidah (omongan) mertua.

Orang tua pada umumnya menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, dengan atau tanpa kesadaran penuh akan faktor perbedaan watak atau karakter. Sejak dulu figur orang tua selalu dianggap sebagai penentu arah hidup karena memiliki pengalaman, di sini lah ada sesat pikir terhadap figur otoritas (argumentum ad verecundiam) dengan kata lain; orang tua selalu benar.

Bersambung ke Part 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *