UB Akan Sulap Limbah Dapur MBG Jadi Cuan

indonewsdaily.com, Malang- Universitas Brawijaya (UB) melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menggagas inovasi pengolahan limbah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi bernilai ekonomi. Program ini akan mengubah limbah organik menjadi pakan ternak, sekaligus mendorong ekonomi sirkular dan pengurangan sampah di Kota Malang.

Inisiatif tersebut digagas bersama Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Malang melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan kelompok peternak yang tergabung dalam Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Ini kalibpertama di Indonesia.

Pada tahap awal, program akan diuji coba di empat dapur MBG dengan melibatkan peternak lele serta kambing-domba di wilayah Singosari.

Ketua Badan Inovasi dan Transformasi Sosial (BITS) FISIP UB, Syahirul Alim, menjelaskan bahwa program ini lahir dari dua persoalan utama, yakni tingginya limbah dapur dan dorongan penerapan ekonomi sirkular.

“Limbah MBG itu bisa diputar jadi rupiah. Caranya diolah menjadi pakan ternak, lalu hasil ternaknya bisa kembali diserap dapur atau dijual ke pasar. Ini konsep win-win antara dapur dan peternak,” ujar Syahirul, Jumat (10/4/2026).

Ia menyebut, skema kerja sama akan diformalkan melalui kontrak antara dapur MBG dan BUMDes atau peternak. Limbah organik seperti nasi dan sisa sayur akan diolah menjadi pakan, baik dalam bentuk maggot, pelet, maupun pakan langsung, tergantung kebutuhan ternak.

“FISIP UB berperan sebagai fasilitator. Kami menjembatani kontrak, alur distribusi limbah, hingga penyaluran hasil ternak. Termasuk jika dibutuhkan alat pengolahan, akan kami upayakan,” jelasnya.

Terakhir Syahirul menekankan bahwa, program ini diharapkan menjadi model pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular yang tidak hanya mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat.

Koordinator Wilayah BGN Kota Malang, M. Atho’illah, menyambut baik inovasi tersebut. Ia mengungkapkan, dalam sehari, satu dapur MBG menghasilkan sekitar 5–10 kilogram limbah makanan. Dengan jumlah SPPG aktif di Kota Malang mencapai 74 unit dan ditargetkan bertambah hingga 84–87 unit, potensi limbah yang bisa diolah dinilai sangat besar.

Menurutnya, pengolahan limbah menjadi produk ekonomis merupakan solusi atas persoalan distribusi sampah organik.

“Kalau limbah bisa disalurkan menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis, tentu sangat baik. Selama ini limbah makanan memang menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya membuka peluang kerja sama dengan UB dan para peternak, dengan catatan adanya laporan dan evaluasi program.

“Kami mendukung selama hasilnya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Harapannya limbah SPPG bisa dimanfaatkan optimal dan tidak menimbulkan masalah ke depan,” katanya.

Kepala SPPG Sukoharjo 1 Klojen, Muhammad Wisam Anugrah, menilai program ini dapat menjadi solusi konkret pengelolaan limbah dapur sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

“Jika limbah dapur bisa diolah menjadi pakan ternak, ini sangat membantu kami. Selain mengurangi beban sampah, juga memberi nilai tambah dari sisi ekonomi,” ujar Wisam.

Sementara itu, Pengelola BUMDes Ardiles, Desa Ardimulyo, Singosari, Misbahul Munir, mengaku optimistis program ini akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan peternak.

“Program ini sangat menarik. Limbah sayur dan nasi bisa mengurangi biaya pakan yang selama ini bergantung pada pakan pabrikan. Kalau berjalan baik, ini sangat menguntungkan bagi kami,” katanya.

Ia berharap kerja sama antara akademisi, BGN, dan peternak dapat berjalan berkelanjutan.

“Harapannya limbah dari SPPG bisa terserap, peternak mendapat manfaat, dan omzet kami juga meningkat. Yang penting skemanya saling menguntungkan,” ujarnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *